Tips Mengatasi Malas Beribadah dalam Islam
Setiap Muslim pasti sering mengalami masa futur yaitu: kondisi Ketika semangat ibadah mulai menurun. Malas membaca Alquran, enggan shalat sunnah, jarang dzikir pagi & petang dan enggan shalat tepat waktu adalah hal yang lumrah terjadi, tetapi jika dibiarkan bisa mengurangi keimanan secara perlahan.
Allah Ta’ala berfirman
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلاَ يَأْتُونَ الصَّلاَةَ إِلاَّ وَهُمْ كُسَالَى وَلاَ يُنفِقُونَ إِلاَّ وَهُمْ كَارِهُونَ
“Dan tidak ada yang menghalangi diterimanya infak mereka, kecuali karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dengan malas, dan mereka tidak berinfak kecuali dengan rasa terpaksa.” (QS. At-Taubah: 54)
Ayat di di atas di jelaskan dalam Tafsir Al-Muyassar
Dan sebab tidak diterimanya infak-infak mereka adalah bahwa sesungguhnya mereka menyembunyikan (di dalam hati mereka) kekufuran kepada Allah dan pendustaan kepada rasulNya, Muhammad , dan tidak mengerjakan shalat kecuali mereka merasa berat. Dan mereka tidak menginfakkan harta mereka keculai mereka tidak menyukainya, maka mereka tidak mengharapkan pahala dari kewajiban-kewajiban ini dan tidak takut saat meninggalkannya mendapatkan siksaan dikarenakan kekafiran mereka.
Islam sebagai agama yang sempurna yang telah memberikan tuntunan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Artikel ini akan membahas beberapa Tips mengatasi malas beribadah dalam islam yang bisa diamalkan untuk membangkitkan semangat beribadah lagi.
- Memohon pertolongan kepada Allah dengan Doa dan Dzikir
Salah satu cara terbaik untuk menghindari kemalasan adalah berdoa kepada Allah dan memohon perlindungan dari kelemahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa,
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Bukhari dan Muslim.)
Dzikir pagi yang mengandung permintaan perlindungan dari sifat malas adalah:- صْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Artinya: “Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur.” (Dibaca 1 x) (HR. Muslim no. 2723. Lihat keterangan Syarh Hisnul Muslim, hlm. 161)
- صْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
- Mengatur Pola Tidur dengan Baik
Dalam Islam, pola tidur yang dianjurkan adalah yang seimbang, tidak terlalu banyak tidur tetapi juga tidak kurang tidur sehingga mengganggu aktivitas dan ibadah. Dari hadits dan riwayat ulama, pola tidur yang baik meliputi- Tidur lebih awal di malam hari dan bangun untuk tahajud atau shalat Subuh
- Tidak begadang tanpa alasan penting, seperti hiburan atau hal yang tidak bermanfaat
- Menghindari terlalu banyak tidur di siang hari, karena bisa menyebabkan kemalasan
- Tidur siang sejenak (qailulah) sebelum atau setelah Zuhur untuk menyegarkan tubuh.
- Membiasakan diri dengan berolahraga dan aktifitas fisik
Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi mengatakan- يُعَوَّد في بعض النَّهار المشي والحركة والرِّياضة حتى لا يغلب عليه الكَسَ
“Seseorang disarankan untuk melakukan aktivitas fisik seperti berjalan kaki dan berolahraga di siang hari agar tidak dikuasai oleh kemalasan.” (Mau’izhah Al-Mu’minin, karya Jamaluddin Al-Qasimi)
- يُعَوَّد في بعض النَّهار المشي والحركة والرِّياضة حتى لا يغلب عليه الكَسَ
- Berlomba dalam Kebaikan dan Bersegera Melakukannya
Allah memuji orang-orang beriman yang bersegera dalam kebaikan dan memerintahkan untuk berlomba dalam meraih ampunan dan surga-Nya. Allah Ta’ala berfirman,- وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)”
Dijelaskan Dalam Tafsir Al-Muyassar
” Dan bersegeralah dengan ketaatan kalian kepada Allah dan rosulNya supaya kalian bisa meraih ampunan yang agung dari tuhan kalian dan surga yang luas, luasnya seluas langit dan bumi, Allah menyiapkannya untuk orang-orang yang bertaqwa.”
- وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
- Rutin menghadiri Kajian atau Majelis Ilmu
Majelis ilmu adalah tempat di mana ruhani seseorang diberi asupan. Saat hati lemah dan semangat ibadah menurun, mendengarkan kajian atau membaca buku Islami bisa menjadi “penyegar iman”.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
“Ketika engkau kehilangan semangat dalam beribadah, maka hadirlah di majelis ilmu, karena di sana terdapat kehidupan hati.
Rasa malas dalam beribadah adalah ujian iman yang bisa menimpa siapa saja. Namun, Islam tidak membiarkan umatnya terjerumus tanpa solusi. Dengan menyadari kondisi diri, memperbanyak doa, menjaga lingkungan, rutin menuntut ilmu, dan memulai dengan ibadah ringan namun konsisten, insya Allah semangat dalam beribadah akan kembali tumbuh. Ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui setiap usaha hamba-Nya, sekecil apa pun itu. Maka jangan menyerah—teruslah berjuang melawan rasa malas, dan raihlah cinta Allah melalui ibadah yang tulus.